MENATA
NIAT dlm IBADAH
Oleh : Muhamad Munir *),
ditulis pada 25 Agustus 2008 **)
Untuk apa ibadah dikerjakan?
Niat adalah
kemantapan hati yang didukung oleh ungkapan lesan dan dibuktikan dengan
perbuatan. Menata Niat maksudnya kita dalam beribadah harus melururuskan tujuan
ibadah kita yaitu untuk:
(a)
Mengharapkan ridho dari Allah swt,
(b)
Untuk bertaubat memohon ampun kepada Allah-bagi yang
bergelimang dosa dan kemaksiatan dan sering meninggalkan perintah Allah,
(c)
Untuk menjalankan kewajiban yang diperintahkan oleh
Allah
(d)
Untuk mendapatkan petunjuk dan
kemudahan dari Allah
dalam setiap ikhtiar dan usaha pekerjaan kita,
(e)
Supaya ibadah kita diterima dan mendapatkan pahala di
akhirat kelak.
Mengapa kita harus menata niatan seperti itu?
Karena kalau tidak
kita fokuskan pada tujuan tujuan tersebut, pikiran atau perhatian kita akan
‘ngelantur’ alias ‘mlarah’ kemana-mana, mengikuti suasana sebelum aktifitas
ibadah kita atau mengikuti situasi di sekitar kit beribadah. Dan lebih parah
lagi, jika ibadah kita bukan bertujuan Lillahi ta’alaa (karena Allah
ta’alaa), melainkan untuk tujuan lainnya seperti untuk nampang/ mejeng saja
(sekedar tampil di khalayak orang banyak), untuk pamer diri supaya dianggap
orang sebagai orang yang rajin beribadah, hanya sum’ah/ untuk diperedengarkan kepada orang lian saja, ingin disebut
sebagai orang alim, supaya dinilai orang lain (calon istri, calon mertua,
pimpinan, teman sejawat) sebagai orang yang rajin beribadah, dan sebagainya-dan
sebagainya.
Kalau sudah
demikian tujuan ibadahnya, maka dia tidak mendapatkan pahala dan ridha Allah
swt, dan bahkan akan celaka orang yang ibadahnya suka pamer seperti itu.
Maka di sinilah
perlunya pemahaman, kesadaran dan penerapan menata niatan yang baik yang
bermuara pada “Hanya Untuk Allah swt”.
Hal ini seperti
yang saben waktu kita ucapkan di dalam Shoalt kita:
“Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’iin”
Artinya: “Hanya kepadamu yaa Allah kami
beribadah dan hanya kepadamu Yaa Allah, kami meminta” (QS. Al-Faatihah :4).
Hal ini sesuai
dengan Sabda Rosulullah saw….
[1]
Artinya: Dari
sahabat AlQomah bin Waqqosh al-La’its berkata saya mendengar sahabat Umar ra
berkata di atas mimbar, Aku Mendengar Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya sahnya semua amal itu harus disertai niat. Dan segala
sesuatu itu tergantung dari apa yang diniatkannya. Maka barang siapa yang berhijrah
karena hendak mengharapkan dunia atau seorang perempuan untuk dinikahinya ,
maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diharapkannya itu
(HR. Bukhari dan Muslim).
Maka dari itulah
kita perlu meluruskan niat kita untuk menggapai ridho Allah swt (Lillahi Ta’ala).
Karena hanya
dengan niat yang lurus yang lilahi
ta’aala sajalah yang insya-Allah akan mendapatkan pahala dan tidak akan
sia-sia.
Kenapa
kita mesti menata niat?
Karena dalam
diri manusia ada nafsu. Sedangkan sifat nafsu adalah cenderung membawa kita,
mendorong dan menjerumuskan kita kepada kejelakan. Terhadap niatan dalam
beribadah, tentu nafsu ingin mempengaruhinya, yakni dengan menampilkan diri
bahwa ibadah itu untuk mendapatkan pujian dari orang tua kita, atau dari
teman-teman kita, atau dari guru kita, atau dari teman/ kekasih kita, atau dari
pimpinan kita, atau dari dari atasan kita, atau dari murid-murid maupun santri
kita dsb. Pendek kata, niatan ibadah tidak murni untuk Allah Subhanahu wa
ta’alaa. Akibatnya ibadah yang niatnya telah terkotori hawa nafsu seerti ini
tidak akan mendapatkan pahala dari Allah swt, sebaliknya hanya capek dan lelah
saja. Dia akan kecewa dan menyesal nantinya, ketika semua amal ibadahnya ketika
hidup di dunia ini dihisab (dihitung) dan ditimbang oleh Allah, ia mendapati
pahala dari amal ibadahnya nilainya Nol belaka dan ketika diklarifikasi kepada
Allah swt, maka dijawab oleh Allah bahwa apa yang dilakukannya dahulu tidak
untuk Allah melaikan hanya ingin mendapatkan pujian dari manusia.
Coba kita
bayangkan, betapa sedihnya kala itu kita pasti kecewa dan menyesal. Mengingat
ketika tiba hari perhitungan amal (hari akhirat), maka tidak ada lagi
kesempatan untuk kembali ke dunia untuk beramal dan berbuat baik, semuanya
sudah terlambat. Akhirat untuk menerima balasan (pahala surga atau siksa
neraka) atas semua amal perbuatan kita ketika hidup di dunia ini. Dunia inilah
ladang untuk menanam amal kebaikan, dan akhirat adalah waktu memanen/
menuainya.
Maka hendaknya
kita pun mau mengerti, memahami dan menyadari hal ini. Supaya kita tidak
menyia-nyiakan kesempatan (umur, kesehatan, kesempatan, kekuatan, kemudahan,
dlsb) yang diberikan oleh Allah kepada kita ini.
Kita ingat
kembali tujuan ibadah kita (bahkan semua perbuatan kita) kita peruntukkan atau
kita persembahkan hanya untuk Allah swt semata.
Hal ini juga
senantiasa kita ikrarkan di dalam sholat kita, yang kita ucapkan setelah
Takbirotul Ikrom yakni dalam bacaan ‘Do’a Iftitah’,
“Inna Sholatii wa nusukii wamahyayaa wamamaati
lillahi Robbil ‘aalamiin”
Artinya |
Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untu Allah Tuhan
pemelihara alam semesta.
Berbuat kebaikan
adalah keniscayaan. Karena kita telah diingatkan oleh Rosulullah saw, agar kita
menggunakan kesempatan dan fasilitas yang dikaruniakan oleh Allah kepada kita
mumpung kita masih sempat. Atau bahasa bisnisnya, jangan buang-buang waktu,
gunakan waktu seefisien dan seefektif mungkin. Waktu adalah uang (baca: waktu
adalah ibadah) jangan pernah terbuang, lewat begitu saja. Karena detik demi
detik, menit demi menit yang kita manfaatkan selama ini sejalan dengan helaan
nafas dan detak jantung kita semua mesti akan kita pertanggungjawabkan di
hadapan Penghulu Agung, Sang Khaliq, Allah swt.
Lihatlah pada
diri kita. Kalau perlu pejamkan mata kita. Kita raba dan kita rasakan, apakah
kita masih bernafas? Masih. Apakah kita masih bisa berjalan, masih sehat?
Masih. Apakah kita masih bisa melihat dengan jelas, tidak buta? Masih. Apakah
di saku kita atau di rumah kita masih punya uang atau harta?Masih. Apakah kita
masih sempat berjalan-jalan di depan rumah kita?Masih. Sobat, ternyata kita
masih dikarunia nikmat yang lengkap dan utuh. Jangan lengah, jangan sembrono
karena semua nikmat itu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt.
Kita masih
hidup, belum mati. Kita masih sehat, belum jatuh sakit. Kita masih muda, belum
jadi renta. Kita masih kaya, belum jatuh miskin. Kita masih sempat, tidak dalam
kesempitan. So what?, so mari kita gunakan semua karunia itu untuk mengbdikan
diri kepada Allah, untuk beribadah kepada Allah. Ingat ibadah bukan hanya
sholat, puasa, zakat, baca al-Qur’an atau haji saja, bukan. Meskipun yang
tersebut adalah ibadan-ibadan yang pokok. Tetapi ibadah itu luas sekali
cakupannya. Semua yang kelihatannya aktifitas duniawi, pekerjaan kita
sehari-hari ini, mencari nafkah sehari-hari ini adalah bernilai ibadah, jika
dan hanya jika hal itu tidak bertentangan dengan syariat Allah dan Rosulullah,
dan semua amal/ pekerjaan itu akan kita temui pahalanya jika dan hanya jika hal
itu kita niatkan untuk mencari keridho’an dari Allah swt.
------------------------.
*) Penulis adalah Takmir Masjid Nurul
Huda, Landungsari dan Pengurus MWC NU Kecamatan Dau.
**) Tulisan disempurnakan pada 17
Juli 2012
0 komentar:
Posting Komentar