MEMASUKI ROMADHON
MENGUKUR KESIAPANKU MEMASUKI ROMADHONMuhamad Munir, 07 Agustus 2009 // 15 Sya’ban 1430 H.
PENDAHULUAN
Waktu terus melaju, tidak perduli kita tidur atau bekerja terburu-buru. Bumi tetap berputar pada poros sunnahnya, sementara kita sering tidak menyadarinya. Dua buah bom telah diledakkan oleh para teroris di hotel JW Mariot dan Ritz Calton, Mbah Surip pun telah mendahului para penggemarnya untuk menemui ajal waktu kontraknya yang tidak bisa ia tawar-tawar lagi, sang tuan rumah Si Burung Merak, WS Rendra yang bengkelnya di tempati mbah Surip untuk bersemayam pun ikut pula menyusulnya menjemput taqdir Ilahi menempati kavling kecil, alam penantian, alam barzah.
Hari ini kita sudah sampai di pertengahan bulan Sya’ban, di mana di malam hari tadi semua amal ibadah manusia diangkat ke langit dihaturkan
para malaikat ke haribaan Allah SWT, artinya bahwa dua minggu lagi Romadhan bulan suci, bulan mulia, bulan yang kita tunggu-tunggu akan tiba.
MENGGANJAL WAKTU DENGAN SHOLAT LIMA WAKTU
Waktu begitu cepat berlalu, belum banyak yang kita dapat selesaikan pada saat ini, putaran jam pun telah berpindah kepada angka baru. Belum nyaman dan belum kita nikmati gaji kita awal bulan ini, kita pun telah sampai di minggu kedua bulan Agustus ini. Belum banyak (bahkan belum ada) prestasi yang kita ukir di tahun ini, tak lama lagi pun tahun baru tiba juga.
Waktu begitu cepat berlalu tanpa kita mampu mengendalikannya. Namun sebenarnya kita mampu mengganjal (mengerem) nya dengan lintasan-lintasan sunatullah (baca alamiyah) yang di syariatkan oleh Allah swt, tidak dari hari ke hari bahkan dalam hitungan jam pun ada kendali waktu yang kalau kita mau mengeremnya maka kita tidak akan dilindas dan dimakan oleh waktu.
Kita semua kaum muslimin tentu paham maksudnya, Bukanlah nanti sepulang kerja, kita mengerem waktu dengan bersiap diri melakukan Sholat Maghrib?, kemudian setelah nyantai dan makan malam, kita bisa mengganjal waktu dengan melaksanakan Sholat Isya’ kemudian kita pun beranjak ke peraduan untuk beristirahat setelah seharian ini kita lelah bekerja. Setelah cukup (atau dianggap cukup) beristirahat mengendorkan urat-urat syaraf, di pagi buta -agar tidak dilindas waktu- kita isi waktu kita dengan Sholat Subuh, yang meskipun hanya dua rokaat akan tetapi amat berat dikerjakannya. Bukankah waktu subuh adalah waktu enak-enaknya tidur, kalau kita menuruti nafsu kita?. Dan buktinya dari sekelompok manusia dimanapun kita berada, hampir pasti, lebih banyak yang tidur pulas daripada yang beranjak mengambil air wudlu dan lalu menegakkan Sholat Subuh?. Bukankah sangat sedikit yang tampil berangkat ke Masjid untuk berjamaah Subuh dari pada yang mendekur dalam buaian angin pagi yang semilir?. Maka beruntunglah orang-orang yang bisa menjalankan Sholat Subuh dengan berjamaah di Masjid atau Musholla, apalagi kalau mampu mengistiqimahkannya.
Dan betapa segar rasanya, betapa nyaman di hati dan betapa jernih rasanya pikiran kita manakala kita telah menegakkan Sholat Subuh dengan berjamaah?, sebaliknya terasa begitu menyesal dan merugi jika kita bangun tidur keduluan matahari menyingsing membelah fajar?. Pagi indah pun kita sambut dengan hiruk pikuk kesibukan rutin pagi hari oleh anak istri kita untuk bersiap diri berangkat sekolah atau ke tempat kerja. Pakaiannya, tas dan buku-bukunya, sepatunya, sarapannya, antar jemputnya, kendaraannya, dan lain sebagainya. Maka mentari pun tanpa peduli kesibukan kita terus berlari melewati lintasannya hingga ketika hampir jam dua belas tiba, ia sudah bertengger di tengah-tengah langit maya pada di atas ubun-ubun kita. Dalam kelelahan setelah setengah hari kita bekerja, tentu kita sudah tak ingin terus digilas dan dilumat waktu. Maka hati kita terpanggil untuk meretas waktu dengan mengisinya dengan Sholat Dhuhur. Segarnya air wudlu di siang hari itu amat penuh berkah dan menjadikan air muka kita tampak sumringah berseri-seri. Segarnya wajah dan tubuh ini, berkat siraman tiga kali-tiga kali air wudlu kita, dan setelah kita bersantap siang (bagi yang tidak menjalankan puasa) maka akan membawa semangat dan gairah baru untuk melanjutkan pekerjaan berikutnya. Atau bahkan menjadi semangat baru untuk berkarya dan berkreasi. Lagi-lagi kita masih terus berpacu dengan waktu, kali ini karena energi kita telah terforsir sejak pagi hari dan baru istirahat di tengah hari maka untuk paruh waktu ke dua di siang dan sore hari, kita pun tanpa menunggu empat atau lima jam lagi untuk mengambil jeda mengganjal waktu. Di sore hari setelah dua hingga tiga jam kita bekerja setelah istirahat, kita bisa mengerem waktu dengan melakukan Sholat Ashar.
Dalam lelah yang menyebabkan produktifitas kerja kita mulai menurun, kita bisa refreshing lagi dengan mengambil air wudlu untuk bersiap Sholat Ashar. Kita basuh tangan kita berulang kali, biarkan debu yang menempel, daki yang bersarang di kuku, keringat yang belepotan di tangan kita, atau tinta yang tercoret di jari kita menjadi hilang dengan segarnya basuhan air wudlu yang mengalir dari kran di dekat Musholla atau di halaman Masjid kita. Kita segarkan rongga mulut kita dengan berkumur-kumur, kita sejukkan wajah lelah kita dengan basuhan dan deburan air wudlu dari kedua tangan kita hingga tiga kali dan merata. Kita basuh dan guyurkan air putih nan sejuk itu pada kedua lengan kanan dan kiri kita. Kita basuhkan pula pada bagian kepala dan telinga kita sehingga sempurna rasa segar di kepala kita kemudian kita guyurkan air kran pada kaki kanan dan kaki kiri kita sambil kita ratakan dan kita rasakan kesejukannya, Sempurna. Pun pula masih kita tutup kesempurnaan wadlu itu dengan mengangkat tangan berdo’a memohon kepada Allah sambil menghadap kiblat kita uangkapkan harapan dan permintaan kita lewat do’a sesudah wudlu.
Sholat Ahsar pun kita tegakkan. Kita jadi pengendali waktu dan tidak di gilas oleh putaran waktu. Alahamdulillah, nyaman rasanya ketika sholat Ashar selesai kita tegakkan. Fresh kembali badan dan pikiran kita untuk menyempurnakan bagian akhir dari kerja kita di hari ini. Kita bersiap pulang dan berputar kembali datangnya waktu maghrib yang kita sambut dengan mandi sore terlebih dulu, wudlu, ganti pakaian dan kembali menegakkan Sholat Maghrib untuk mengganjal atau mengerem waktu yang terus melaju.
Subhanallah, rangkaian lintasan waktu yang disiapkan oleh Allah swt untuk kita telah kita lintasi dengan menegakkan Sholat secara fisik. Adapun secara ruhani dan hakiki, kita harus lapisi rangkaian sholat ragawi tersebut dengan daging dan kulit ruhani. Kita mesti memahami dan menyadari bahwa penggalan-penggalan waktu dalam dua puluh empat jam (dengan sholat lima waktu) sehari semalam tersebut adalah waktu-waktu istimewa kita berkomunikasi langsung dengan Allah SWT, bermi’roj ke haribaan Allah SWT. Bahwa kita, sekali lagi, harus menyadari dan bersyukur kepada Allah, dzat yang menjadikan kita wujud di muka bumi ini. Dzat yang menjadikan dan menjalankan waktu tanpa berkompromi dan mengajak manusia untuk membantunya. Dzat yang menciptakan alam jagat raya ini dengan amat komplit dan sempurna. Dzat yang menegakkan langit tanpa ada penyangganya. Dzat yangmenghela dan menghembuskan nafas setiap insan yang bernyawa dan mematikan kembali setiap makhluqnya yang bernyawa. Dzat yangmengalirkan darah pada seluruh urat nadi kita dan dzat yang mendenyutkan nadi kita dan dzat yang menjadikan mata kita bisa berkedip-kedip dan melihat, tangan kita bisa mengetik, otak kita bisa berfungsi sangat luar biasa, mulut dan lisan kita mampu berbicara, telinga kita mampu mendengar suara yang bermacam-macam, hidung kita yang mampu mencium aroma harum dan tidak harum di sekitar kita, dan seterusnya. Alhamdulillah terima kasih ya Allah. Kita mesti mensyukurinya dengan melakukan perintah-perintahNya yang tentu yang kita mampu mengerjakannya, dan jangan sampai kita mengingkarinya karena sungguh biadab dan kurang ajar hamba yang dulu asalnya dicipta dari se-tetes (sak crit-an, Jawa) air mani yang atas kasih sayang dan rahmat-Nya sehingga terwujud manusia yang sempurna dengan segala kesempurnaanya akan tetapi kemudian berani dan durhaka kepada penciptanya. Na’udzu billahi min dzaalik.
MENGGANJAL HARI DENGAN SHOLAT JUM'AT
Demikian juga dari hari kehari, kita pun bisa mengganjal hari-hari yang terus berlari. Bukankah setiap seminggu sekali, kita dianjurkan untuk kembali menjumpai Ilahi Robbi secara mingguan dengan Menegakkan Sholat Jum’at dengan berjamaah di Masjid. Maka sekali lagi, kita ganjal (kita rem) waktu dengan penuh khusyu’ dan tawadlu’ mendengarkan khutbah Jumat dan kita tegakkan sholat jum’at dua rokaat sesudahnya. Maka jangan sampai kita dilindas waktu yang berlari dari hari ke hari dengan sembrono meninggalkan Shoalt Jum’at.
MENGGANJAL BULAN DENGAN PUASA BULAN QOMARIYAH
Dari minggu ke minggu, menjadilah bulan setelah terkumpul empat minggu atau tiga puluh hari. Dalam putaran bulan ke bulan, kita pun mampu mengganjal edaran bulan dengan mengganjal sepanjang sepanjang satu hari yakni dengan puasa tiga hari tiap tengah bulan (tanggal 13, 14, 15 bulan Qomariyah) . Itu semua merupakan puasa yaumul bidh (hari-hari putih) yang disunnahkan hukumnya. Allah berfirman, yang artinya kata Allah “Pusa itu untuk-Ku dan Aku sendirilah yang akan memberikan ganjarannya).
MENGGANJAL TAHUN DENGAN PUASA ROMADHON
Maka beredarlah bulan ke bulan, hingga setelah 12 bulan berganti tahun. Dan kembali lagi dari putaran waktu bulan yang terus berjalan, kita diberi fasilitas oleh Allah untuk mengerem/ mengganjal perjalanan bulan dengan waktu satu bulan penuh yaitu datangnya bulan Romadhon, yang sepanjang bulan itu kita isi dengan puasa sebulan penuh, yang hal ini merupakan kewajiban bagi kita umat Islam.
Ingat, lima belas hari lagi Bulan Puasa Romadhon tiba. Sudah siapkah aku menyambutnya?, bagaimana dengan Saudara?. Jawab sejujurnya, apakah Saudara merasa berat dan malasa dengan datangnya bulan ini dikarenakan pekerjaan Anda menjadi terhambat dan kinerja Anda menjadi tidak produktif?, atau kerja dan kegiatan Anda menjadi malas dan tidak bebas karena Anda tidak bisa makan seenaknya pada siang hari di pinggir-pinggir jalan atau di restauran atau di café?. Demikian kah yang ada dalam benak Saudara?
GEMBIRA DENGAN DATANGNYA BULAN ROMADHON
Kalau saya, insya-Allah senang menyambut datangnya bulan suci ini. Saya sangat hafal di luar kepala Sabda Rosulullah saw, yang berkenaan dengan penyambutan terhadap bulan Romadhon ini, yang saya sering mengulang-ulang dan menghafalkannya karena kebetulan untuk persiapan ceramah sehabis tarawih atau menjadi bagian materi Khutbah Jum’at saya. Adapun hatus tersebut berbunyi:
Man Faroha Biduhuli Romadhona, harromallohu Jasadahu alan-niiroon
“Barang siapa yang gembira (bungah, Jawa) dengan datangnya bulan Romadhon (karena berharap bisa beribadah dengan sebanyak-banyaknya), maka Allah mengharamkan jasad-tubuhnya dari api neraka”.
Atas dasar pemahamanku akan Hadits nabi inilah aku mesti mengkondisikan bersiap diri menyambut kedatangan bulan suci penuh berkah, rahmat, ampunan dan dibukanya lebar-lebar pintu surga bagi siapa saja yang mau memasukinya, bulan ditutupnya rapat-rapat pintu neraka bagi siapa yangmempedulikannya, bulan dilipatgandakannya amal ibadah bagi siapa yang mau mengisinya, dan juga merupakan bulan ancaman dan sumpah serapah serta laknat bagi siapa saja yang tidak menghiraukannya, yang tidak mempedulikannya, yang melewatinya dengan tidak mau berpuasa, tidak ngurus soal Tarawih di malam harinya, tidak ngatur soal Sholat Witir setelah tarawihnya, Tidak nge-reken (don’t care) dengan Sholat Malam dan makan sahur di sepertiga malam terakhirnya.
Terima kasih ya Allah, semoga aku benar-benar Dikau sampaikan pada bulan Romadhon yang Mubarrok tersebut, sebagaimana Nabi-Mu telah menuntun kami dengan doa yang dibaca tiga bulan sebelum Romadhon tiba, yaitu:
Allohumma Barik lanaa fii Rojaba wa Sya’banaa Wa baligh-naa Romadhonaa
“Ya Alloh, berkahilah kepada kami di bulan Rajab ini, dan berkahilah kami di bulan Sya’ban, dan sampaikanlah usia kami pada bulan Romadhan”.
Terima kasih ya Allah, perkenankanlah dengan segala kesungguhan dan ketawadlu’anku aku menyambut fasilitas dari-Mu dengan datangnya Bulan penuh ampunan ini dengan mengucapkan:
“MARHABAN YAA ROMADHOON”,
Selamat Datang, Bulan Romadhon.
(M. Munir, Ketua Takmir Masjid Nurul Huda Landungsari,
email: emmun_sim22@yahoo.com)
-= Alhamdulillahi Robbil Aalamiin =-




sesungguhnya Ramadhan itu bulan yang mulia....
BalasHapusSalam Ramadhan...